Teruntuk almarhum mbah kakung☺
Saat yang menyakitkan
Ialah aku akan melepaskan
Seseoang yang aku genggam
Yang aku perjuangkan inginnya
Saat akan melepasnya
Setengah jiwaku ikut terhanyut
Bersama sejuta angan
Dan pilu dalam dada
Setengah aku tersadar
Aku masih belum ingin melepas
Masih tersisa janji yang menggantung
Namun setengah aku pun
Harus melepasnya
Agar hilang sakit
Agar sirna derita
Harus melepas
Saat menyakitkan untuk
Sadar akan melepasnya
Pasti.
Senin, 28 November 2016
hihihihhiii
emmm teruntuk imam yang aku terjatuh padanya, hatiku dan hidupku, yang entah sosoknya sekarang, yang teramat aku damba sejak sekarang sejak kita belum saling mengetahui, aku sudah menjatuhkan hati padamu.
Karena aku
Aku takut terlalu berharap
Ribuan angan di benak
Dan jemari ini makin menggila
Entah kapan akan terhapuskan
Bila rindu itu pun tak ada
Jemari takkan bergerak begitu bebasnya
Ya, aku menulis aku menggambar
Ya, jemari terbebas melayang mengangan imajinasi
Ya, bebas lepas menggores pena
Ya, bebaskan saja jemariku
Ya, jemari menari menuju arahnya
Ya, aku terbebas menuju surga jemari
Karena aku
Aku takut terlalu berharap
Ribuan angan di benak
Dan jemari ini makin menggila
Entah kapan akan terhapuskan
Bila rindu itu pun tak ada
Jemari takkan bergerak begitu bebasnya
Ya, aku menulis aku menggambar
Ya, jemari terbebas melayang mengangan imajinasi
Ya, bebas lepas menggores pena
Ya, bebaskan saja jemariku
Ya, jemari menari menuju arahnya
Ya, aku terbebas menuju surga jemari
Minggu, 27 November 2016
Sang Angan
28 November 2016
Dalam sesaknya hela
Aku menghela
Siapa tahu masih tersisa umur untukku
Dan aku menghela
Jemariku menari
Membebaskan Sang Angan
Andai angan tak terperangkap
Jemari masih berteman dengan rapuhnya air mata
Menatap jalan
Menengok jalan
Andai takkan berarti
Namun nafsu juga leluasa menarik
Menyanyi dalam taman surga
Sayang surga dunia, sayangnya
Manusia berdalih
Manusia beralih
Dan manusia menjerit
Seonggok manusia dari mereka
Mencoba bertaubat
Mencoba berdamai dengan hati
Menggapai kemenangan pucuknya hati
Inginku sungguh
Melayang mengikuti semua taat
Dalam sesaknya hela
Aku menghela
Siapa tahu masih tersisa umur untukku
Dan aku menghela
Jemariku menari
Membebaskan Sang Angan
Andai angan tak terperangkap
Jemari masih berteman dengan rapuhnya air mata
Menatap jalan
Menengok jalan
Andai takkan berarti
Namun nafsu juga leluasa menarik
Menyanyi dalam taman surga
Sayang surga dunia, sayangnya
Manusia berdalih
Manusia beralih
Dan manusia menjerit
Seonggok manusia dari mereka
Mencoba bertaubat
Mencoba berdamai dengan hati
Menggapai kemenangan pucuknya hati
Inginku sungguh
Melayang mengikuti semua taat
Kamis, 06 Oktober 2016
Terandai 06/10/2016
Terandai
06102016
Dan langit mulai menertawakanku
Aku yang mulai gelisah dengan hantu rasaku
Ya hantu yang kadang hitam kadang putih
Atau malah abu-abu
Yang kadang naik kadang turun
Air mata juga tak kuasa menahan beratnya hingga menetes
Sesak di dada kian meleleh
Aku mencoba berpaling dari sang maksiat
Namun selalu saja terpeleset
Harusnya aku bisa, harusnya aku mampu
Ah, andaikan niatku sanggup kalahkan malasku
Ya Rabb, diri ini berserah
Tanpa rasa aku bisa maju, hipotesaku
Namun aku pun takut tanpa rasa
Aku hanya manusia
Yang entah sampai dimana langkahku
Selalu ketika aku tersadar
Kaki ini telah melangkah terlalu jauh
Hingga batin, telinga dan mata ini buta
Mencari bersimpuh tak berdaya
Ada sebagian dariku yang inginkan putih
Namun sebagiannya tak kuasa abaikan sang hitam yang merona
Ah andaikan diriku sanggup kalahkan aku
Minggu, 28 Agustus 2016
Andai
Andai
28 Agustus 2016
Sedih mengibaratkan perjuangan mereka
Jalan yang mereka lalui
Harus atau hanya karma pilihan
Angin masih mengalun
Menangisi luka mereka
Luka batin dan fisik
Angin masih berdoa
Berangan berjuang bersama mereka
Mengusir segelintir sepi
Atau hanya menjadi tamu yang lantas
menghilang
Menghilang karena diserang
Andai itu mimpi yang tiada berujung
Hanya sebatas mimpi yang tiada
terbangun
Yang nyata yang tak angan yang tak
fatamorgana itu kematian
Entah kematian atau awal kehidupan nyata
Kehidupan abadi kehidupan benar
Jalan ini ingin menerobos dinding
Mengarah ke jalan mereka, tentu
Dalam kehidupan sekarang andai itu mimpi
Yang nyata itu perjuangan di jalan
Yang tak angan itu langkah per jengkal
Yang tak fatamorgana itu doa
Minggu, 12 Juni 2016
Ayah Keduaku, Pak Pos
ini cerpen dari dan buat mas ipar ku^^
cerita fiktif lohya
12 Juni 2016
cerita fiktif lohya
12 Juni 2016
Mentari baru saja keluar dari
persembunyiannya. Seketika kamarku menjadi hangat rasanya. Sehangat sikap Pak
Pos, yup, Pak Pos yang setiap hari aku cegat di depan rumah, hihihi. Senyum ramahnya,
sikap santunnya selalu saja membuat nyaman setiap orang. Pak Pos, yang biasa
aku cegat itu bernama Pak Ali, mungkin umurnya sekitar 40 tahun. Tapi aku lebih
suka memanggilnya Pak Pos. Pak Pos juga tidak pernah marah entah dipanggil Pak
Pos atau Pak Ali, lagi-lagi cuman senyum ramah yang dia balaskan.
Kedekatanku dengan Pak Pos sebenarnya
dimulai sejak kejadian mengerikan yang menimpa Ayahku, Kamis pagi tanggal 28
Mei 2015. Tepat di hari yang Ayah janjikan untuk memberikan jawaban tentang
Sekolah Menengah Pertama mana yang akan aku coba masuki. Maklum aku hanya hidup
berdua dengan Ayah, ibu sudah lama meninggal ketika aku berumur 2 tahun.
Rabu, 27 Mei 2015, seperti biasa
aku dibangunkan oleh ayah dengan kecupan di dahiku. Tanda aku harus segera beranjak
dari tempat tidurku dan mempersiapkan diri pergi ke sekolah. Udara yang sejuk
dan pemandangan pagi hari yang segar mendorongku membuka daun jendela kamar
tepat menghadap ke taman. Daun-daun yang seakan menari, angin yang bergoyang ke
sana ke mari dengan bebasnya dan burung yang saling jawab berkicau, semua
bergembira di setiap pagi aku membuka jendela. Hussssssttttt, tiba-tiba suara
sepeda tua itu datang, ya, Pak Pos setiap pagi selalu saja mengganggu nyanyian
kita. Tanpa aku sadari, aku selalu memperhatikan sosok tersebut. Setiap orang
yang ia temui, ia sapa tanpa kecuali. Entahlah apakah sifatnya yang ramah atau
hanya sekedar tuntutan pekerjaan. Yang jelas setiap aku membuka jendela selalu
saja sosok yang sama yang muncul. Ah, aku tak terlalu peduli. Ingin sebenarnya
terkadang menanyakan hal tersebut ke Ayah, namun selalu aku urungkan, hehe,
maklum selalu ada topik lain yang ingin aku obrolkan dengan Ayah.
Selagi sarapan, banyak topik yang
kita obrolkan. Aku masih membahas tentang sekolah yang ingin aku masuki.
Sebagai seorang siswa SD yang baru saja melaksanakan ujian, wajar kan aku
selalu cerewet agar bisa masuk sekolah keinginanku. Tiba-tiba Ayah mengalihkan
topik pembicaraan, dan mulai bercerita tentang Si Pak Pos. Aku terkejut. “Loh
kok jadi mbahas Pak Pos? Apa Ayah tadi melihatku memperhatikan Pak Pos ya?”,
gumamku dalam hati. Ayah mulai bercerita tentang Pak Pos.
“Jadi tukang pos itu tidak mudah
loh, ndu. Harus sabar. Sabar mencari alamat, sabar menghadapi lalu lintas,
sabar menghadapi pelanggan, dan belum sabar-sabar yang lain. Kita sudah
semestinya hormat kepada beliau”, ucap Ayah.
Hemmm, apa benar yah yang dikatakan Ayah? Selama
yang aku amati sih memang Pak Pos cuman memberikan senyum kepada orang-orang,
bahkan kepada orang yang kurang bersikap baik kepadanya. Tanpa mereka tahu
bagaimana lelah yang dirasakan Pak Pos. Sarapan selesai, Ayah mengantarku ke
sekolah.
Di sekolah pun, kita siswa kelas
6 dibebaskan dari pelajaran. Karena kita yang berisik dan takut menggangu kelas
yang lain, Ibu guru mengajak kami untuk mendatangi kantor pos seberang jalan.
Asyik, senangnya aku akan mendapat pengetahuan baru.
Sekitar pukul 08.30 kita sampai
di kantor pos. Kita disambut oleh pak satpam yang menanyai keperluan kami.
Terlihat di kursi pengunjung sudah berderet orang-orang, ada yang masih muda
sampai tua, ada yang rapi sampai yang berpakaian seadanya, semua ada. Nomor
antrian terpanggil tertib. Petugas yang menerima pengunjung di loket-loket juga
rapi, ramah kelihatannya. Pengunjung kantor pos itu ada yang sambil membawa
kardus besar terbungkus rapi sekali, ada juga yang membawa koper, iya koper,
koper yang sudah siap untuk dikirim, dan ada juga pengunjung yang hanya
berbekal nomor antrian.
Saat melihat-lihat sekeliling
kantor, aku melihat sosok yang tidak asing untuk mataku. Oh, Pak Pos, iya Pak
Pos ternyata bekerja di sini. Tanpa mengendarai sepedanya, ia bersandar di
sebuah bangku sambil melepas lelah, terlihat dari raut mukanya yang sepertinya
menahan lelah. Setengguk dua tengguk air mineral ia minum. Bercerita tentang
kegiatan berkelilingnnya hari ini kepada rekan-rekan kerjanya. Ya, bisa
ditebak, senyum lagi senyum lagi yang ia berikan. Ah, aku mulai mengerti
tentang pekerjaan Pak Pos, bukan sekedar mengganggu hangatnya pagiku setiap
hari, tapi melaksanakan kewajibannya, tanggung jawabnya sebagai Pak Pos.
Sekarang aku tak ingin berfikir buruk lagi dengan Pak Pos, tapi aku juga tidak
mau terlalu mengagumi Pak Pos. Masih ragu alasanku.
“Dek, Dek Zahra, sini, gabung
sama teman-teman ya.” Kata Ibu guru, seketika menyadarkanku dari renungan
tentang Pak Pos itu. Mataku masih tertuju ke Pak Pos, sampai ia terlihat
mencari seseorang dengan melihat-lihat gerombolan anak SD di kantor itu.
Mungkin Pak Pos mendengar ada yang memanggil namaku, sehingga ia mencoba untuk
mencariku. Itu pikirku. Pak Pos sudah mengenalku, ia tahu namaku, Pak Pos juga
akrab dengan Ayah. Namun aku, namanya saja aku belum tahu, tidak terlalu
penting, alasan itu yang berulang muncul.
Aku menyusul teman-temanku pergi
keluar kantor dan menuju ke belakang. Aku kira ini akan menuju toilet karena
ada temanku yang ingin buang air kecil. Ups, ternyata aku salah. Di bagian
belakang kantor itu ternyata terdapat koperasi. Disanalah tempat pengunjung
yang akan membungkus barang yang akan dikirimnya. Koperasinya memang tidak
terlalu besar, namun bersih, rapi, petugasnya pun juga rapi berseragam. Dan
pastinya jajanan di sini juga dijamin higienis. Kebanyakan jajanan yang
terhidang di atas meja adalah jajanan titipan, seperti gorengan, kue kering,
dan jajanan pasar.
Puas berkeliling, Ibu guru
mengajak kita untuk pulang ke sekolah. Sebelum pulang, kita berpamitan terlebih
dahulu dengan para pegawai. Ya aku pun berpamitan dengan Pak Pos, dengan
sedikit masih tidak peduli aku mencium tangannya.
Sepulang sekolah, di rumah aku
sendirian. Makan siang sudah disiapkan Ayah seperti biasa di atas meja. Ayah
setiap jam istirahat siang memang pulang ke rumah untuk menyiapkan makan
siang. Terkadang masakan Ayah sendiri,
walaupun lebih sering masakan warung. Makan siang sendiri, sepi, hanya ada
suara televisi yang sengaja aku keraskan suaranya sedikit. Setelah makan siang,
kasur seperti memanggil-manggil namaku. Lebih-lebih bantal dan guling, lembut
sekali.
Terbangun, aku mencuci muka,
dilanjutkan dengan membuka buku PR. Tidak tahan satu menit, rasanya aku
melayang, eh, sudah di depan kulkas saja, hihihi. Aku buka kulkas perlahan,
benar saja, banyak cemilan tersimpan, dari yang bungkusnya merah, kuning,
hijau. Eits, kok malah mirip lampu lalu lintas ya?. Ahahaha, hiburku, biarlah
yang penting ada cokelat, cemilan favoritku. Dilanjut mengerjakan PR sambil
makan cemilan deh. Tidak terasa sudah sore, Ayah pulang.
Setelah shalat Isya dan makan
malam, Ayah mengantarku ke tempat tidur dan menungguku sampai tertidur, seperti
biasa lagi aku bercerita kegiatanku seharian. Tidak terlewat kegiatan di Kantor
Pos tadi pagi, dan sosok Pak Pos yang akhirnya aku ceritakan pada Ayah. Ayah
hanya berpesan agar aku lebih menghargai Pak Pos, dan melihat
kebaikan-kebaikannya. Iya Ayah iya, aku sudah mulai menghargai Pak Pos itu,
hanya saja belum bisa sepenuhnya, karena bagiku ia masih mengganggu pagi hari
ku yang damai.
Pagi hari, Kamis, 28 Mei 2015,
suasana dingin menusuk sampai ke kulit, tetesan air hujan di luar rumah seakan
berlomba adu cepat jatuh ke tanah. Sempat terdengar suara petir menggelegar
langit pagi ku. Aku tidak berani membuka jendela hanya sedikit saja bagiannya
yang aku buka. Ayah masuk ke kamar dan menenangkanku lalu keluar, mempersiapkan
sarapan untuk kita sepertinya. Dan aku, masih bertahan di atas tempat tidurku.
Suara di pagi hari yang selalu ada pun terdengar, ya suara sepeda tua yang aku
kira tidak akan aku dengar pagi ini, tapi aku salah. Suaranya mengalahkan suara
tetesan air hujan. Aku mengintip dari bagian kecil jendela, tidak habis pikir
aku, Pak Pos hanya berlindung pada mantel tipis masih menjalankan kewajibannya
berkeliling mengantar surat, barang, dan pesanan yang lain. Tidak terbayang
seperti apa dingin yang dirasakan Pak Pos. Aduh, hati ini jadi tidak tega. Pak
Pos, Pak Pos, tetap sehat ya.
Aku berangkat ke sekolah karena
hujan sudah tidak terlalu deras, namun saat Ayah pulang mengantarku, hujan
malah semakin menjadi. Aku dan teman sekelasku menghabiskan waktu di dalam
kelas untuk mendengar bimbingan dari kepala sekolah mengenai langkah-langkah
yang harus kami ambil setelah pengumuman kelulusan nanti. Sedangkan hujan di
luar semakin deras. Sepuluh menit, dua puluh menit berlalu. Hujan tidak
memperlihatkan niat baiknya untuk berhenti. Tepat dari luar pintu kelas,
seorang lelaki paruh baya bermantel berniat untuk mengetuk pintu kelas.
Bermantel? Bukankah mantel itu yang aku lihat tadi pagi? Pak Pos, iya lelaki
paruh baya itu adalah Pak Pos. Namun untuk apa ia datang ke sekolahku? Apakah
ada surat untuk pihak sekolah? Tapi kenapa langsung ke kelasku? Beberapa
pertanyaan mengangan di pikiranku. Kepala Sekolah pun langsung menemui Pak Pos.
Entah jawaban mana yang benar dari pertanyaan di benakku tadi. Tidak lama,
Kepala Sekolah menghampiriku. Jantungku berdenyut lebih kencang. Kepala Sekolah
memberitahuku bahwa Ayah mengalami kecelakaan dan Pak Pos adalah orang yang
mengantar Ayah ke Rumah Sakit. Aduh, bagaikan tersambar halilintar. Hatiku
hancur. Aku langsung berlari ke Pak Pos dan memeluknya, menangis di dekapnya,
memohon untuk dibawa ke Rumah Sakit dimana Ayah dirawat. Sambil menenangkanku,
Pak Pos meminta ijin untuk membawaku ke Rumah sakit kepada Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah menawarkan kami untuk pergi dengan mobil pribadi Kepala Sekolah.
Namun aku menolak, aku ingin pergi dengan sepeda tua Pak Pos. Pak Pos
menasehatiku agar mau pergi dengan mobil, namun aku tetap menolak. Akhirnya aku
pergi dengan Pak Pos dan sepedanya. Pak Pos membagi mantelnya agar aku tidak
terkena hujan. Aku melihat masih ada darah yang belum hilang oleh air hujan di
sepeda Pak Pos. Tangisku pun semakin menjadi. Dipikiranku sekarang hanya ada
Ayah, Ayah, Ayah.
Sesampainya di Rumah Sakit,
dokter mengatakan agar Ayah lebih baik menjalani operasi. Ketika itu aku sangat
bingung, aku belum tahu apa operasi itu. Aku hanya menangis. Pak Pos dengan
sigap menjelaskan keadaanku dan Ayah yang hanya hidup berdua kepada dokter.
Jadilah Ayahku menjalani operasi. Setegah jam, satu jam, waktu terasa sangat
lama berlalu. Aku memilih tetap berada
di dekapan Pak Pos. Aku takut, sangat takut. Aku juga bingung, entah apa yang
sedang dilakukan para dokter pada Ayahku.
Pak Pos tiba-tiba mengeluarkan
cokelat dari sakunya. Ia memberikannya padaku, dan menceritakan hal-hal lucu
kepadaku. Selang beberapa lama, melihatku sedikit lebih tenang, Pak Pos
membawaku ke koperasi Rumah Sakit dan membelikanku banyak cokelat, ia juga
mengenalkanku dengan pegawai-pegawai koperasi Rumah Sakit. Tanpa aku sadari aku
melupakan rasa takutku.
Kita berdua kembali ke depan
kamar ruang operasi Ayah. Tidak lama, dokter keluar dan memberitahu kalau
operasinya berhasil dan kemungkinan besar Ayah bisa dibawa pulang setelah satu
bulan menjalani perawatan. Aku tidak terlalu mengerti dengan perkataan dokter,
namun Pak Pos terlihat tersenyum mendengar inormasi dari dokter, sehingga aku
pun ikut tersenyum.
Selama Ayah menjalani rawat inap
di Rumah Sakit, Pak Pos lah yang selalu merawatku dan juga mengantarkanku ke
Rumah Sakit. Sampai yang mendampingiku mendaftar ke SMP pun Pak Pos, tentu saja
atas persetujuan Ayah.
Setelah kejadian mengerikan itu,
pendapatku tentang Pak Pos berbalik 180 derajat. Aku sadar betapa baiknya Pak
Pos, dan betapa berartinya Pak Pos untukku, untuk keluargaku. Sekarang Ayah
sudah keluar dari Rumah Sakit, dan kesehatan Ayah pun semakin membaik.
Hubunganku dengan Pak Pos juga semakin membaik. Pak Pos menjadi Ayah kedua
bagiku.
The End :)
Rabu, 01 Juni 2016
Sekawan = Satu kawan
Sekawan
02 Juni 2016
Mentari tersenyum
Bunga menyingir
Mengintip tingkah kita
Mereka tertawa, berbisik
Kita terbahak, menepi
Awan menari menyampikan salamnya
Bibir manisnya melebar
Menyebar hangat kebisingan
Pelangi pun tersipu
Membagi warna rindunya
Tiada habis terlihat
Daun yang jatuh turut menari
Kita bertemu kemarin
Kita berpisah kemarin
Kita beriringan, bersama
Menepis duri, mungkin
Melawan arus, cobanya
Nyatanya kita beriringan, bersama
Menapaki tingginya ombak
Menyelami basahnya daun
Kita beriringan, bersama
Angin Ingin Angan
Angin Ingin Angan
01 Juni 2016
Malam yang menggelitik
Perlahan menghancurkan gundukan rindu
Rindu pada ibu
Rindu pada Rabb ku
Makin usia ku jelajah
Hantu waktu kian menerkam
Sesal, takut
Takut, sesal
Ujung cerita indah
Mata tak kuat membangunkan kelopaknya
Padahal hati tak kuasa dengan sesal, takut
Ingin ingin ingin
Namun tak kunjung jua kaki melangkah
Inilah itulah
Hadir selalu kerangkang
Angan mengangan
Hati teroyak mendaki
Raga tetap terkunci
Lalu dimana pembuka kunci?
Akankah bertahan dengan gundukan rindu?
Rindu pada ibu
Rindu pada Rabb ku
Langganan:
Postingan (Atom)