Jumat, 19 Oktober 2018

menulis itu..

menenangkan
tanpa harus berucap

dan aku semakin serakah atas kamu
menulis

bercerita tentang ombak yang berdiri tegak
ia tak menyadari setegak apa ia
tidak sedikitpun untuk menghancurkan ayunan kayu di ujung bantaran pantai
menguapkan pasir yang tak mungkin menguap
retaklah pasir jadinya
pohon tembakau yang terbahak karena mendapat kawan baru,
retakan pasir?
ombak tegak?
atau ikan bercula puluhan yang tak terhitung

itulah menulis
aku bebas berdansa dengan kata
yang entah artinya apa
dimengerti atau tidak
aku lega
aku hanya lega
dengan mengeluarkan pikiran yang sedari dulu riwet bak benang tak terurus
meski tak menjamin bisa meluruskan yang belok.

lalelah

Aku bertanya tentang dunia
mereka bersaut itu tentang ibu
Aku bertanya tentang senyum
ya, sedari dulu yang ku tau dunia adalah ibu
aku berjalan, entah memang berjalan atau sekedar kepuraan
berpulang berdalih berjalan untuk mencari rumah
nyatanya aku tak tau rumah dimana
halah, bukankah selama ini pun aku pulang ke rumah?
kenapa masih berbilang tak tau rumah?
garis yang mengantarku pun terlihat lelah
mata yang mulai berkabut
bukan, bukan kabut
itu air mata
alih-alih menyalahkan dunia atau apalah yang tersebut takdir
malah merusak dirinya sendiri
bersombong menanggung semua beban sendiri
jalan ini akan terus ada,
yakinlah.
sekarang atau nanti
jalan ini atau itu
semua pasti melalui jemari
badai pasti berlalu, nan juga bahagia yang pasti berlalu
tak usahlah terlalu berpikir salah dengan dunia
berdamailah dengan diri sendiri
agar damai
agar mengerti hari esok
pun tak usah pula sibuk dengan menyalahkan orang yang lalu
orang yang datang
mereka bercerita bunga mereka sendiri
cukuplah menerima, mengasih kuntuman bunga mereka
tak usah bubuhkan beban duri

hidup ini sederhana
hal nya menjaga semua yang dititipkan
dan berbahagia ketika titipanNya terambil