Bunda...
Ketika ku memutar balik waktu
Luka itu terbuka, bun..
Sayatan itu masih merah
Ya, aku memerah
Marah, bun..
Menangis, bun..
Marahku pada aku
Dia yang ku perjuangkan
Manjanya menyusun masa depan
Melintasi pori waktu, bergandeng
Di satu titik
Yang jiwa kita terjatuh bersama
Dia harus pergi, bun..
Iya dia pergi, bun..
Perihnya hati tak pantas
Tak sebanding dengan perihnya
Perihnya melepas jiwa dari raga
Aku ikhlas, bun...
Aku pasrah, bun..
Aku ingin dia bahagia di sana.
Bunda..
Dan aku terjebak dalam luka ini
Dan luka ini, lagi
Luka yang aku buat sendiri
Yang tak kuingin
Ah, sudahlah damailah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar