Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
semoga bukan hanya pribadi ini yg dapat mengambil ibrahnya tapi jg yg membaca aamiin
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang...
Sayangilah anak hamba, Zaara firdausy..
Ketetapan Allah yang terbaik...
Dari awal menstruasi, siklus bulananku selalu memanjang. Jikalah bulan ini awal bulan, bulan depan di pertengahan, sesekali mundur sampai akhir bulan. 9 Juni 2019, tamu bulananku datang lebih awal, untuk pertama kalinya. Pertama kali..
12 Juni 2019, seorang pria mengikrarkan janjinya, janji yang kuat di hadapan Allah dengan wali bapakku. Aku resmi menjadi seorang istri. Sebulan setelahnya, aku belum mens!! Tak kurang dari 5 testpack yg akhirnya bergaris dua. Yaa Rabb, aku hamil. Aku menjadi ibu untuk pertama kali. Pertama kali..
Umur janinku beranjak 12 minggu, aku tertegun, betapa besar karuniaNya, aku mendengar detak jantung anakku. MasyaAllah. Seketika aku merasa penuh menjadi ibu.
Namun waktu itu juga anakku divonis anencephal, anakku istimewa. Yaa Rabb, aku yakin takdirMu yang terbaik. Aku percaya sepenuhnya padaMu, hanya kepadaMu ku pasrahkan hidup mati ku dan anakku, kepada Engkau Yang Maha Hidup.
Perjuangan kami dimulai. Hampir semua tenaga medis menyarankan untuk terminasi. Sampai lah aku di JIH dengan dokter prita, hasil rekomendasi beberapa kakak2 di kantor, mencari pembenaran mungkin untuk mempertahankan janinku. Dokter prita menyerahkan sepenuhnya keputusan di tangan kami orang tua nya, dokter prita juga mengisahkan beberapa kehamilan dengan kasus sama tapi tetap dilanjutkan, insyaAllah ada keajaiban sendiri dari rencana-Nya. Oke mantap sudah aku mempertahankan janinku. Aku ingin bersama anakku, aku ingin menjaga titipanNya. Berjalan waktu aku sempat ragu. Aku takut aku terlalu egois dengan mempertahankan anakku, Aku takut anakku merasakan sakit. Keyakinanku akan takdirNya pun sempat goyah, aku menyalahkan diriku. Semua salahku, semua salahku. Tapi yakin itu langsung menghinggap tatkala gerak anakku makin aktif, aku mulai bercengkerama dengannya. Semua aktivitas kita lakukan bersama, semuaanyaaaa. Aku dia, dia aku.
Detak jantungnya semakin aku merasakannya. MasyaAllah sungguh besar kuasaMu, ada manusia yg hidup di rahimku.
Bahkan daun yang jatuh pun sudah diatur olehNya, Maha Besar Allah.
Aku melahirkan di umur kehamilanku 37 minggu, satu bulan lebih cepat dari HPL. Alhamdulillah lahiran normal dan prosesnya cepat, pas tepat sesuai apa yang aku selalu mintakan dalam doa. Bayiku lahir, alhamdulillah alhamdulillah. Aku hanya melihatnya sekilas sebelum persiapan untuk proses kiret. Bersebelah, ruanganku dengan bayiku hanya bersebelah. Satu jam dua jam anakku dipindahkan ke ruang bayi, ayahnya bersama bayiku. Sebelum aku dibius total, ayahnya zaara sempat mendampingiku, menguatkan aku, melihatkan foto zaara. Yaa RabbðŸ˜ðŸ˜
Dek zaara maafin mama, dek. Maafin mama, semua salahnya mama. Dedek jangan ngrasain sakit ya dek ya, biar ke mama aja sakitnya, dedek yang bahagia aja, seneng aja, jangan sakit dek, mama sayang banget sama zaara. Yaa Rabbi😠aku percaya semua ciptaanMu sempurna, semua sesuai dengan rencanaMu, anakku sempurna, cantik, zaara firdausy.
Proses kiret hampir 2 jam. Entah pukul berapa aku sempat terbangun tapi masih belum sadar total, aku hanya merasakan sakit di pinggang dan minta dipindah ke tempat tidur. Sesampainya di tempat tidur, aku terlelap lagi dengan ibu adik mbak dan suami ku mendampingi. Entah apa aku sempat terbangun, aku mendengar ibuk dan mbak ku berbisik ‘iya gapapa insyaAllah ikhlas ini mesti yang terbaik, kasihan bayinya juga’. Aku sadar total sekitar setengah 5 sore. Suami ku datang, ‘dek, kamu gimana udah mendingan? Dek, kamu yang kuat ya..’ langsung aku potong kalimatnya, ‘zaara udah gak ada ya, bi?’, suami mengangguk, memelukku, menguatkan. Air mataku mengalir, tapi aku sudah ikhlas. Adikku datang, langsung ku hapus air mataku. Aku harus tegar di hadapan keluargaku. Tidak ada air mata di hadapan mereka, itu tekadku dari awal. Tak lama, suami ku datang lagi dan meminta ijin membawa zaara pulang untuk dimakamkan, bayiku, anakku, zaara firdausy. Ya aku mengiyakan. Tapi aku meminta bertemu dengan zaara dulu sebelum zaara dibawa pulang. Diantar oleh mbak dan suami ku aku dengan kursi roda beranjak ke tempat zaara. Tiba di ruangan itu, entah ruangan apa. Aku melihat anakku, rapi dibalut kain. Aku gendong anakku, aku cium anakku, hatiku hancur, hancur sejadi2 nya.
Mama belum sempet peluk dedek, cium dedek pas dedek masih ada, kayak yang mama sama dedek selalu omongin pas masih di kandungan, ‘dedek, dek zaara nanti kalo udah mau lahir bantuin mama ya sayang, dedek nanti cepet lahirnya ya sayang, yang gampang gangsar, langsung jrol, mama takut dek lahiran.’ ‘dek, dek zaara nanti kalo mau lahir bantuin mama ya sayang proses lahirnya biar cepet aamiin tapi dek zaara gak boleh sakit ya sayang, mama pengin bisa peluk dedek bisa cium dedek, kaya ayah yang sering peluk n cium dek zaara di perut mama, mama juga pengin peluk cium dek zaara.’ ‘dek,mama sayang banget sama zaara, zaara jangan ngrasain sakit ya nak’. ðŸ˜
Pas dedek lahir mama belum sempet ketemu dedek, cuman liat dedek pas lagi ditolongin sama perawat. Dek zaara putih, cantik, kaya mama. Tapi lebih ke ayah versi cewek. Yaa Rabbi, aduhai besar kuasaMu.
Mama cuman bisa denger suara dedek, dua kali ya nak dedek nangis. Mama terenyuh, kesayat hati mama, sedih gak bisa lihat dan gendong dedek. Dek zaara itu nangis lagi manggil mama bukan nak? Kalo iya,maafin mama lagi ya dek mama belum bisa samperin zaara.
Dek, mama kangen, zaara lagi apa.
Dek, maafin mama ya sayang.
Dek, mama kangen zaara.
Yaa Rabbi, astaghfirullahaladzim.
Yaa Rabb, hamba lemah, Engkau Yang Maha Kuat, tolong kuatkanlah hamba.
Waktu berjalan, kita belajar.
Sekarang sudah genap 2 bulan sejak proses persalinan, dan aku masih belajar.
Tiap kali ada masalah, zaara selalu jadi pengingatku. Ya penggingat tentang akhirat. Tentang tujuanku. Tujuanku sekarang semoga sama dengan tempat anakku sekarang, agar aku bisa peluk, cium, mewujudkan yg belum sempat kita lakukan.
Makasi yaaa zaara sayang, semoga dedek bisa selalu jadi pengingat buat mama, buat ayah, dan buat semua.
Mama sayang zaara, nak.
Laa tahzan, innalaha ma’ana.
Allah tidak menginginkan kesedihan dan kesulitan bagi umatNya.
Berbahagia selalu dengan semua ketetapan Allah.