Selasa, 21 Maret 2017

:'(

Bunda...
Ketika ku memutar balik waktu
Luka itu terbuka, bun..
Sayatan itu masih merah
Ya, aku memerah
Marah, bun..
Menangis, bun..
Marahku pada aku
Dia yang ku perjuangkan
Manjanya menyusun masa depan
Melintasi pori waktu, bergandeng

Di satu titik
Yang jiwa kita terjatuh bersama
Dia harus pergi, bun..
Iya dia pergi, bun..
Perihnya hati tak pantas
Tak sebanding dengan perihnya
Perihnya melepas jiwa dari raga
Aku ikhlas, bun...
Aku pasrah, bun..
Aku ingin dia bahagia di sana.

Bunda..
Dan aku terjebak dalam luka ini
Dan luka ini, lagi
Luka yang aku buat sendiri
Yang tak kuingin
Ah, sudahlah damailah

Kamis, 16 Maret 2017

Yang tersembunyi

Yang Tersembunyi

Angin yang terbang
Menyusuri tiap pori Sang Hidup
Ia menari pun terjatuh
Ia melihat pun terpana
Senyumnya merekah bak mawar yang mekar
Merah di sudut pipi
Terpana nan terjatuh
Atau terjatuh nan terpana?
Biarkan saja ia dengan segala tingkahnya
Toh seberapa banyak ia menari melihat jatuh dan terpana
Dia takkan sadar
Angin hanyalah angin
Bermasam durja, tersenyum ria
Mengagumi pun hanya miliknya
Tanpa ada yang tahu
Angin tetaplah angin
Yang kan berlalu
Menyukai sewajarnya
Pun membenci sewajarnya